Indonesia Diserbu 68.762 TKA, Pemerintah Diam

Ilustrasi: Tenaga Kerja Asing (Google)

Ilustrasi: Tenaga Kerja Asing (Google)

Jakarta, HanTer – Sepanjang tahun 2014 sekitar 68.762 Tenaga Kerja Asing membanjiri pangsa pasar tenaga kerja di Indonesia. Berdasarkan jumlah tersebut para tenaga kerja asing menempati beberapa kategori sektor yakni perdagangan dan jasa tetap paling mendominasi dengan jumlah TKA mencapai 36.732 orang, sektor industri 24.041 orang dan sektor pertanian 8.019 orang.

Menanggapi hal tersebut, Dirjen Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja (Binapentan) Kementerian Ketenagakerjaan, Reyna Usman mengatakan, semua itu merupakan bukti pihak pemerintah sangat terbuka dan mempersilahkan bagi para tenaga kerja asing yang ingin bekerja di Indonesia.

“Memang kita tidak ada ketentuan dan batasan jumlah komposisi tenaga kerja asing di satu perusahaan, semua itu sebagai bentuk kita terbuka bagi orang asing untuk bekerja di Indonesia,” kata Reyna kepada Harian Terbit di Kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Senin (9/3/2015).

Akan tetapi dia menjelaskan, meski dilakukan hal tersebut pihaknya tetap memberikan keistimewaan kepada para pekerja Indonesia dibandingkan dengan tenaga kerja asing.

“Apabila ada pekerja kita yang memenuhi syarat untuk menduduki posisi jabatan Manajer di perusahaan ya para TKA tidak boleh menempati jabatan tersebut, TKA hanya menyesuaikan jabatan yang dibutuhkan perusahaan. Jadi intinya pemberi kerja atau perusahaan yang memperkerjaan TKA wajib mengutamakan  tenaga kerja Indonesia pada semua jenis jabatan yang tersedia.

Namun bila jabatan tersebut belum dapat diduduki pekerja Indonesia baru boleh mempekerjakan TKA,” ungkap Reyna.

Menurut dia, sejak adanya daftar Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA) yang diterbitkan Kemnaker, pihaknya dapat meminimalisir jumlah tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia. hal semua itu terlihat jumlah TKA 2014 menurun tipis dibandingkan tahun 2013 yang berjumlah 68.957 orang dan tahun 2012 yang mencapai 72.427 orang.

“Pada tahun 2014, Jumlah TKA dari China jumlahnya mencapai 16.328 orang,  Jepang (10.838), dan Korea Selatan (8.172). Sedangkan TKA dari India (4.981), Malaysia (4.022), Amerika Serikat (2,658), Thailand (1.002 ), Australia (2.664), Filipina (2.670), Inggris (2.227), Negara Lainnya (13.200 orang),” tuturnya.

Selain itu, lanjutnya, pertimbangan lainnya yakni dalaam hal mempekerjakan para tenaga kerja asing harus berdasarkan asas manfaat dan aspek legalitas. Kata Reyna, selain syarat wajib melengkapi dokumen dan perizinan, penggunaan tenaga kerja asing mendorong pembukaan lapangan kerja yang luas terutama bagi pekerja lokal.

“Saat kebutuhan tenaga kerja asing itu diajukan, maka kita akan lihat seberapa banyak manfaat yang bisa diperoleh bagi tenaga kerja lokal. Kalau tidak sesuai dengan kebutuhan, tentunya kita akan menolak,” jelas Reyna.

Reyna menambahkan, bagi yang mempekerjakan TKA di luar jabatan direksi dan komisaris, pihak perusahaan wajib menunjuk pekerja Indonesia untuk mendampingi para TKA dalam hal bekerja. Hal ini, jelasnya, untuk memastikan TKA melakukan alih teknologi dan alih keahlian kepada tenaga kerja lokal yang bekerja di perusahaan tersebut.

Oleh karena itu, beber dia, dengan adanya proses alih teknologi dan alih keahlian diharapkan jabatan yang ditinggalkan TKA ketika masa kerjanya berakhir di perusahaan maka dapat digantikan oleh tenaga kerja Indonesia.

“Itu istilahnya sebagai investasi ilmu bagi pekerja Indonesia. Tetapi sebelumnya perusahaan wajib memberikan pelatihan kepada para pendamping sesuai dengan jabatan yang diemban oleh TKA,” urai Reyna

(Dony)

Lima Kota Ini Paling Bersahabat bagi Ekspatriat

Newyork-sunset

Pemandangan matahari terbenam kota New York terlihat dari pinggir sungai kota New York, Amerika (31/5). Peristiwa langka tersebut disebabkan oleh faktor cuaca, titik koordinat kota New York, serta awan dan geografis kota New York yang membuat New York hanya mengalami matahari terbenam sempurna empat kali setahun. (dailymail)

TEMPO.CO, Jakarta – Bagi sebagian orang, tinggal di negara orang memerlukan banyak faktor pertimbangan dan harus dipikirkan matang-matang. Iklim, kearifan lokal, dan biaya hidup yang berbeda adalah pertimbangan utama yang kerap menghalangi orang untuk hijrah.

Seperti yang dilansir BBC, terdapat lima kota yang dinilai paling bersahabat bagi orang asing. Survei dilakukan terhadap 14 ribu ekspat dari 160 negara dengan memperhatikan faktor sosial, pekerjaan, dan finansial.

1. Guayaquil, Ekuador
Negara Amerika Latin tersebut menduduki peringkat pertama sebagai kota paling diidamkan para ekspatriat. Saat ini banyak ekspat yang hijrah dari Ibu Kota Quito menuju Guayaquil karena banyaknya lapangan kerja yang tersedia. “Guayaquil adalah pusat bisnis di mana kami menghasilkan uang sebelum menghamburkannya di Quito,” ujar Park Wilson, blogger dari Viva Tropical. Selain itu, murahnya biaya hidup dan keramahan penduduk lokal semakin menambah ketertarikan para tenaga kerja asing untuk menempati Guayaquil

2. Kota Luksemburg, Luksemburg
Meskipun tergolong kota kecil, Luksemburg memiliki banyak peluang bagi mereka yang ingin berkarier. Banyaknya orang asing yang tinggal dan berbaur di sana membuat sesama ekspatriat saling memberikan informasi pekerjaan, tempat tinggal, sekolah, dan semua informasi dengan mudah. “Semua orang berbicara dengan bahasa masing-masing, tetapi mereka bermain bersama,” kata Rute Vandeirino, blogger dari Expat Mum in Luxembourg. Hal inilah yang membuat para ekspatriat mengesampingkan masalah mahalnya biaya hidup.

3. Kota Meksiko, Meksiko
Sebanyak 91 persen orang asing yang tinggal di Meksiko merasa nyaman dan serasa tinggal di rumah sendiri. “Ketika tiba, saya benar-benar merasa kehidupan di sini sama seperti di rumah,” kata Justin Ermini, seorang koki asal Amerika Serikat. Keramahan penduduk Meksiko membuat para orang asing kepincut serta mengesampingkan tingkat kriminal dan penyebaran narkoba yang tinggi.

4. Zurich, Swiss
Ibu kota Swiss ini adalah surga bagi para ekspatriat yang menggeluti sektor industri bank dan finansial. Penggunaan bahasa Inggris menjadi nilai tambah bagi para ekspat. Selain itu, standar hidup yang tinggi kerap membuat orang yang tinggal di sana merasa nyaman. “Selain mudah berkomunikasi, moda transportasi (kereta, trem, dan bus) di Swiss juga sangat modern dan efisien,” ujar Gayle Cotton, penulis Say Anything to Anyone, Anywhere! 5 Key to Successful Cross-Cultural Communication.

5. New York, Amerika Serikat
Kota yang tak pernah mati ini menjadi favorit di kalangan ekspatriat karena keramahan dan banyaknya wahana hiburan yang ada. Biaya tinggal yang mahal dapat ditutupi dengan murahnya harga makanan. Selain itu, moda transportasi canggih dan efisien dapat menekan keinginan untuk memiliki mobil. “New York sangat energik dan menyenangkan, ada sesuatu yang membuat Anda tak dapat merasakannya di tempat lain,” kata Mish Slade, blogger yang menulis “Making It Anywhere”.

BBC | ANDI RUSLI

 

Toyota Tempatkan Ekspatriat di Pos Penting

Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menyerahkan donasi 18 unit Toyota Fortuner senilai total Rp4 miliar kepada sejumlah perguruan tinggi dan sekolah menengah kejuruan (SMK) di seluruh Indonesia. Foto diambil di Universitas Sumatera Utara (USU), Jumat (20/2). [koran-sindo.com]

TEMPO.CO, Tokyo – Produsen mobil Jepang, Toyota Motor Corp., akan mempromosikan sejumlah karyawan berkebangsaan asing untuk menempati pos-pos penting.

Keputusan pabrikan mobil terbesar di dunia ini mematahkan tradisi perusahaan yang selama ini hanya membolehkan karyawan lokal menduduki pos-pos penting di kantor pusat.

Seperti dilansir dari Japan News, Toyota telah menunjuk Didier Leroy sebagai salah satu dari enam calon executive vice presidents baru di kantor pusat. Leroy sebelumnya merupakan kepala perwakilan Toyota di Eropa.

Selain Leroy, ada nama Julie Hamp yang akan menjadi wanita berkebangsaan asing pertama yang menduduki posisi penting di Toyota. Julie Hamp sebelumnya merupakan pejabat senior Toyota di Amerika Utara. Ada lagi nama Christopher Reynolds, penasihat untuk wilayah Afrika-Amerika.

Penunjukan Julie Hamp sebagai eksekutif di kantor pusat ini membuat Toyota mematahkan kesenjangan gender di tempat kerja. Perdana Menteri Shinzo Abe menargetkan pada 2020 perusahaan di Jepang harus mempekerjakan pekerja wanita minimal 30 persen.

SETIAWAN

Pemerintah Batasi Usia Tenaga Kerja Asing

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah akan melakukan pembatasan usia kerja bagi tenaga kerja asing (TKA) yang bekerja di Indonesia untuk menghindari adanya praktik diskriminasi antara pekerja asing dengan pekerja domestik.

Ilustrasi: Tenaga Kerja Asing (Google)

Ilustrasi: Tenaga Kerja Asing (Google)

“Apabila pekerja domestik yang bekerja di perusahaan asing di Indonesia dipensiunkan pada umur 50 tahun, maka hal serupa harus juga diterapkan kepada TKA yang ada di perusahaan tersebut. Karena itu umur TKA maksimal 50 tahun,” kata Direktur Pengendalian Penggunaan TKA Hery Sudarmanto seperti dikutip dalam website Kementerian Ketenagakerjaan, Rabu (4/3/2015).

Hery pun mengungkapkan bahwa TKA yang akan bekerja di Indonesia harus sesuai dengan latar belakang keahliannya  karena menyangkut keselamatan kerja, kompetensi, dan regulasi yang ada di Indonesia.

Pembatasan usia tersebut, sambungnya, berlaku untuk pekerja asing yang menjabat sebagai karyawan biasa. Sementara untuk pekerja asing yang menduduki posisi sebagai pemegang saham pembatasan tersebut tidak berlaku.

“Peraturan ini berlaku bagi seluruh TKA kecuali bagi pemegang saham atau kuasa pemegang saham,” ujarnya.

Pemerintah Batasi Usia Tenaga Kerja Asing

Ilustrasi: Tenaga Kerja Asing (by Google)

Ilustrasi: Tenaga Kerja Asing (by Google)

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah akan melakukan pembatasan usia kerja bagi tenaga kerja asing (TKA) yang bekerja di Indonesia untuk menghindari adanya praktik diskriminasi antara pekerja asing dengan pekerja domestik.

“Apabila pekerja domestik yang bekerja di perusahaan asing di Indonesia dipensiunkan pada umur 50 tahun, maka hal serupa harus juga diterapkan kepada TKA yang ada di perusahaan tersebut. Karena itu umur TKA maksimal 50 tahun,” kata Direktur Pengendalian Penggunaan TKA Hery Sudarmanto seperti dikutip dalam website Kementerian Ketenagakerjaan, Rabu (4/3/2015).

Hery pun mengungkapkan bahwa TKA yang akan bekerja di Indonesia harus sesuai dengan latar belakang keahliannya  karena menyangkut keselamatan kerja, kompetensi, dan regulasi yang ada di Indonesia.

Pembatasan usia tersebut, sambungnya, berlaku untuk pekerja asing yang menjabat sebagai karyawan biasa. Sementara untuk pekerja asing yang menduduki posisi sebagai pemegang saham pembatasan tersebut tidak berlaku.

“Peraturan ini berlaku bagi seluruh TKA kecuali bagi pemegang saham atau kuasa pemegang saham,” ujarnya.

Salahi Izin Tinggal, Warga Bangladesh Ditangkap Imigrasi Blitar

Blitar – Kantor Imigrasi Kelas 2 Blitar menangkap seorang warga negara asing berkewarganegaraan Bangladesh. WNA bernama Nazmul Hosain tersebut terbukti menyalahi izin tinggal dan memalsukan data dan identitas diri untuk masuk ke Indonesia.

Nazmul Hosain ditangkap di rumah istrinya, Pujianti, di Desa Sidorejo Kecamatan Ponggok.

“Saudara Nazmul ini kami tangkap karena telah memalsukan identitas untuk membuat paspor baru. Dalam paspor yang pertama, tertanda (nama) Akm Nazmul Hoshain lahir tanggal 10 Desember 1971. Sedangkan paspor yang baru menggunakan nama Nazmul Hoshain, lahir tanggal 10 Desember 1977,” kata Kepala Kantor Imigrasi Kelas 2 Blitar Tato Juliadi Hidayawan kepada wartawan di kantornya, Rabu (4/3/2015).

Di hadapan wartawan, Tato menunjukkan 2 paspor milik WNA tersebut. Dari pengamatan wartawan, memang ada perbedaan nama serta tahun lahir yang tertera pada pasport tersebut.

Hosain termasuk WNA yang membandel. Meski telah overstay, namun ia bersikukuh untuk tetap tinggal di Indonesia. Paspor yang ia milik sebenarnya sudah habis sejak tahun 2009. Namun ia tetap tinggal di Blitar hingga tahun 2014.

“Tahun 2014 sebenarnya kita sudah deportasi, sekaligus yang bersangkutan kami masukkan daftar cekal. Namun ia kembali lagi pada 12 Februari 2015 lewat Bandara Ngurah Rai Bali dengan Visa B211 atau izin kunjungan sosial dan budaya, dengan merubah data pada paspor. Ini untuk mengelabui petugas,” ujar pria berkacamata tersebut.

Hosain ditangkap pada tanggal 23 Februari 2015. Saat ditangkap, Hosain berusaha mengelak dengan menunjukkan paspor baru. Namun, bukannya memuluskan keinginannya untuk tetap di Indonesia, petugas justru mendapati paspor dan visa yang baru tersebut berbeda nama dan tahun kelahiran.

Hosain pun akhirnya dibawa ke kantor imigrasi guna pemeriksaan lebih lanjut. Kini Hosain dikenai wajib lapor 2 hari sekali atau sewaktu-waktu diperlukan keterangannya oleh petugas imigrasi.

“Kami akan menjerat yang bersangkutan dengan pasal 75 ayat 1 dan ayat 2 Junto pasal 13 tentang pemalsuan identitas dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara atau denda Rp 500 juta. Selain itu, pihak imigrasi juga akan mendeportasi serta mencekal yang bersangkutan,” pungkas Tato. (bdh/bdh)