Sejumlah proyek pembangkit tenaga listrik 10.000 MW dari China, hampir seluruh pembangunannya memakai vendor asing. Padahal, sebagian besar komponen seharusnya bisa diberikan peluang kepada para technopreneur lokal agar berkembang.
  • Facebook
  • Google+
  • Twitter
  • Digg
  • LinkedIn
  • Blogger
Bisnis.com,

Sejumlah proyek pembangkit tenaga listrik 10.000 MW dari China, hampir seluruh pembangunannya memakai vendor asing. Padahal, sebagian besar komponen seharusnya bisa diberikan peluang kepada para technopreneur lokal agar berkembang.

JAKARTA – Ikatan Alumni Mesin Institut Teknologi Bandung (IAM-ITB) mengusulkan agar Presiden Joko Widodo lebih memberi perhatian dan bimbingan untuk penguasaan dan penciptaan teknologi oleh sumber daya lokal.

Dengan demikian, kondisi itu bisa menumbuhkan para insinyur teknik mesin, teknik material, teknik elektro dan teknik kimia lokal lebih berkembang menjadi engineer dan technopreneur yang andal.

Political will pemerintah untuk mengembangkan engineer dan technopreneur lokal akan menciptakan keunggulan daya saing struktur industri nasional, yang tidak sekadar mengurangi ketergantungan impor tapi justru akan memperkuat struktur industri nasional seutuhnya,” kata Sekjen IAM-ITB  Rudy Andriyana dalam keterangan resminya, Rabu (18/3/2015).

Hal tersebut, katanya, akan sangat berpengaruh pada daya saing bangsa demi keberlangsungan dari bangsa Indonesia atau survival of the nation.

Saat ini, tuturnya, insinyur Indonesia lebih banyak terjebak pada proses produksi, bukan kepada penguasaan dan penciptaan teknologi itu sendiri.

Dia mencontohkan aksesoris dari sebuah produk teknologi yang sebenarnya mampu diciptakan dan dikuasai oleh insinyur lokal masih dikuasai oleh pihak asing. Para investor asing malah membawa vendor-vendornya ke Indonesia, sehingga menutup peluang insinyur-insinyur lokal menjadi technopreneur.

Kondisi ini diakui membuat insinyur lokal menjadi patah hati karena tidak mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan. Apalagi secara rasio kependudukan jumlah insinyur terus bertambah dari tahun ke tahun.

Namun, kompetensinya tidak terakomodir sebagai insinyur sesungguhnya yaitu sebagai pencipta teknologi, atau tak sekadar sebagai pengelola teknologi.

Rudy khawatir insinyur nasional tidak memiliki kebanggaan lagi untuk menciptakan teknologi yang berguna bagi Tanah Air karena tidak mendapat kesempatan yang sesuai. Tak hanya itu, dikhawatirkan tidak banyak lagi orang Indonesia yang ingin menjadi insinyur.

Bila terjadi, katanya, ini akan merugikan bangsa Indonesia pada masa mendatang, dan bisa jadi nanti insinyur-insinyur dari Vietnam, Kamboja yang akan masuk ke Indonesia setelah mereka belajar di kampus-kampus teknik terkemuka di Indonesia seperti di ITB.

Saat ini, katanya, adalah momentum yang tepat bagi Indonesia untuk menunjukkan kemampuan daya saing lokal melalui penciptaan dan penguasaan teknologi, serta kontribusinya pada industri-industri baik milik nasional maupun asing yang sejak lama ada di Indonesia.

Bahkan harapannya bisa mendapat kesempatan untuk tumbuh menjadi technopreneur-technopreneur yang mampu mendukung industrialisasi di Tanah Air.

Vendor-vendor lokal masih kesulitan untuk masuk ke industri besar atau asing, bukan karena kualifikasinya yang tidak memadai tetapi karena para perusahaan tersebut telah membawa vendor-vendor dari negara asal berinvestasi di Indonesia.

“Kami tidak memiliki kesempatan untuk berperan, political will pemerintah sangat diperlukan dalam membimbing dan memberikan lapangan agar kami bisa berkembang,” kata Rudy Andriyana.

Vendor Asing di Proyek Pembangkit

Dia mencontohkan untuk proyek pembangkit tenaga listrik 10.000 MW dari China, hampir seluruh pembangunannya memakai vendor asing. Padahal, sebagian besar komponen seharusnya bisa diberikan peluang kepada para technopreneur lokal agar berkembang.

“Seperti kondisi di negara tetangga Malaysia, pemerintah di sana sangat mendukung pengembangan technopreneur. Bahkan pada investasi asing diterapkan kebijakan untuk setiap satu satu insinyur ekspatriat harus didampingin tiga insinyur lokal,” ucapnya.

Sebelumnya, IAM-ITB telah menggagas sebuah Gerakan Indonesianisme yang mengajak masyarakat memperkuat basis ekonomi nasional dan memberdayakan masyarakat negeri ini.

Gerakan Indonesianisme telah membuat daftar produk/jasa yang dibuat di Indonesia, mulai dari kategori produk produsen nasional hingga produk asing yang dirancang bangun dan diproduksi di Indonesia.

Gerakan Indonesianisme ini memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi nasional agar bermanfaat dan memberi nilai tambah pada kemampuan rancang bangun, produksi, dan manufaktur, yang memperkokoh perekonomian Indonesia di masa depan.

Share This