Ilustrasi: Tenaga Kerja Asing (Google)
  • Facebook
  • Google+
  • Twitter
  • Digg
  • LinkedIn
  • Blogger

Ilustrasi: Tenaga Kerja Asing (Google)

Jakarta, HanTer – Sepanjang tahun 2014 sekitar 68.762 Tenaga Kerja Asing membanjiri pangsa pasar tenaga kerja di Indonesia. Berdasarkan jumlah tersebut para tenaga kerja asing menempati beberapa kategori sektor yakni perdagangan dan jasa tetap paling mendominasi dengan jumlah TKA mencapai 36.732 orang, sektor industri 24.041 orang dan sektor pertanian 8.019 orang.

Menanggapi hal tersebut, Dirjen Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja (Binapentan) Kementerian Ketenagakerjaan, Reyna Usman mengatakan, semua itu merupakan bukti pihak pemerintah sangat terbuka dan mempersilahkan bagi para tenaga kerja asing yang ingin bekerja di Indonesia.

“Memang kita tidak ada ketentuan dan batasan jumlah komposisi tenaga kerja asing di satu perusahaan, semua itu sebagai bentuk kita terbuka bagi orang asing untuk bekerja di Indonesia,” kata Reyna kepada Harian Terbit di Kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Senin (9/3/2015).

Akan tetapi dia menjelaskan, meski dilakukan hal tersebut pihaknya tetap memberikan keistimewaan kepada para pekerja Indonesia dibandingkan dengan tenaga kerja asing.

“Apabila ada pekerja kita yang memenuhi syarat untuk menduduki posisi jabatan Manajer di perusahaan ya para TKA tidak boleh menempati jabatan tersebut, TKA hanya menyesuaikan jabatan yang dibutuhkan perusahaan. Jadi intinya pemberi kerja atau perusahaan yang memperkerjaan TKA wajib mengutamakan¬† tenaga kerja Indonesia pada semua jenis jabatan yang tersedia.

Namun bila jabatan tersebut belum dapat diduduki pekerja Indonesia baru boleh mempekerjakan TKA,” ungkap Reyna.

Menurut dia, sejak adanya daftar Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA) yang diterbitkan Kemnaker, pihaknya dapat meminimalisir jumlah tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia. hal semua itu terlihat jumlah TKA 2014 menurun tipis dibandingkan tahun 2013 yang berjumlah 68.957 orang dan tahun 2012 yang mencapai 72.427 orang.

“Pada tahun 2014, Jumlah TKA dari China jumlahnya mencapai 16.328 orang,¬† Jepang (10.838), dan Korea Selatan (8.172). Sedangkan TKA dari India (4.981), Malaysia (4.022), Amerika Serikat (2,658), Thailand (1.002 ), Australia (2.664), Filipina (2.670), Inggris (2.227), Negara Lainnya (13.200 orang),” tuturnya.

Selain itu, lanjutnya, pertimbangan lainnya yakni dalaam hal mempekerjakan para tenaga kerja asing harus berdasarkan asas manfaat dan aspek legalitas. Kata Reyna, selain syarat wajib melengkapi dokumen dan perizinan, penggunaan tenaga kerja asing mendorong pembukaan lapangan kerja yang luas terutama bagi pekerja lokal.

“Saat kebutuhan tenaga kerja asing itu diajukan, maka kita akan lihat seberapa banyak manfaat yang bisa diperoleh bagi tenaga kerja lokal. Kalau tidak sesuai dengan kebutuhan, tentunya kita akan menolak,” jelas Reyna.

Reyna menambahkan, bagi yang mempekerjakan TKA di luar jabatan direksi dan komisaris, pihak perusahaan wajib menunjuk pekerja Indonesia untuk mendampingi para TKA dalam hal bekerja. Hal ini, jelasnya, untuk memastikan TKA melakukan alih teknologi dan alih keahlian kepada tenaga kerja lokal yang bekerja di perusahaan tersebut.

Oleh karena itu, beber dia, dengan adanya proses alih teknologi dan alih keahlian diharapkan jabatan yang ditinggalkan TKA ketika masa kerjanya berakhir di perusahaan maka dapat digantikan oleh tenaga kerja Indonesia.

“Itu istilahnya sebagai investasi ilmu bagi pekerja Indonesia. Tetapi sebelumnya perusahaan wajib memberikan pelatihan kepada para pendamping sesuai dengan jabatan yang diemban oleh TKA,” urai Reyna

(Dony)

Share This